Jumat, 30 November 2012

Proses Terjadinya bumi


Bumi telah terbentuk sekitar 4,6 miliar tahun yang lalu. Akan tetapi bentuk bumi selalu mengalami perubahan. Proses perubahan bentuk permukaan bumi disebabkan oleh tenaga geologi, yaitu tenaga yang berasal dari dalam bumi (endogen) dan tenaga yang berasal dari luar bumi (eksogen). Kekuatan tenaga endogen dapat menyebabkan terjadinya gunung api dan gempa bumi yang sangat dahsyat, sedangkan tenaga eksogen merupakan tenaga yang merusak bentuk-bentuk permukaan bumi dari luar.
Berdasarkan beberapa pengamatan diketahui bahwa bumi berbentuk bulat bola yang memepat di bagian kutubnya. Garis tengah di khatulistiwa
adalah 12.756,32km dan jarak antara kutub utara dan kutub selatan adalah 12.713,54km.
Bentuk bumi yang bulat telah dibuktikan dengan cara sebagai berikut:
1.    Mengamati gerak benda dalam suatu wilayah yang luas. Contohnya gerak kapal laut di samudra. Dari jarak jauh yang tampak hanya cerobong asap, kemudian secara perlahan badan kapal akan tampak di permukaan laut.
2.   Melihat bumi dari ruang angkasa. Bumi diketahui berbentuk bulat dengan melihat foto-foto yang dihasilkan dari satelit ataupun pesawat ruang angkasa.




1.            Teori Kabut (Nebula)
a.           Immanuel Kant
Immanuel Kant merupakan seorang filsuf dan ilmuan Jerman. Pada tahun 1755, ia membuat hipotesis yang menyatakan bahwa tata surya terbentuk oleh gumpalan kabut (nebula) yang terdiri atas bermacm-macam gas. Nebula tersebut berpilin lambat. Gas-gas yang berukuran besar menarik gas-gas yang berukuran kecil sehingga membentuk gumpalan gas yang mirip dengan cakram. Ketika cakram tersebut memepat, sebagian besar gas berada di pusat cakram. Pusat cakram membentuk gumpalan kabut bermassa besar yang kemudian menjadi matahari. Adapun gas-gas di bagian tepi mengalami penurunan suhu dan menyusut membentuk planet-planet yang mengelilingi matahari.

b.           Piere Simon de Laplace
Piere simon de Laplace merupakan seorang ahli fisika Prancis. Pada tahun 1796 ia menyatakan bahwa tata surya berasal dari kabut panas yang berpilin. Karena kabut selalu memancarkan panas di alam semesta yang dingin, kabut tersebut mengalami penyusutan dan membentuk bola gas. Penyusutan itu menyebabkan pilinan bola gas semakin cepat. Akibatnya terjadi pemepatan di kedua kutubnya dan melebar di bagian ekuator menyerupai gelang-gelang karena penumpukan gas.
Pilinan bola gas yang semakin cepat menyebabkan sebagian massa gas di ekuator makin menjauh dari bola gas, kemudian membentuk bola-bola gas yang lebih kecil dan mengelilingi gas awal. Bola-bola gas kecil tersebut kemudian mendingin menjadi planet, sedangkan bola gas awal menjadi matahari.



2.           Teori Planetesimal
Teori planetesimal dikemukakan oleh Chamberlin dan Moulton pada tahun 1905. Teori ini menyatakan bahwa tata surya berasal dari gumpalan kabut yang berbentuk spiral atau pilin sehingga disebut kabut pilin. Di dalam kabut itu terdapat material-material padat yang disebut planetesimal. Tiap-tiap planetesimal mempunyai orbit bebas sehingga terjadi tabrakan-tabrakan. Dengan adanya gaya gravitasi, terbentuklah gumpalan-gumpalan yang besar dan lebih pampat. Gumpalan terbesar terletak di tengah (pusat) kabut dan menjadi pusat peredaran yang kemudian disebut matahari. Adapun gumpalan-gumpalan yang lebih kecil menjadi planet-planet yang secara bersama-sama berevolusi terhadap matahari.

3.         Teori Pasang Surut
Teori pasang surut pertama kali disampaikan oleh Buffon (1707-1788). Buffon menyatakan bahwa tata surya berasal dari adanya materi matahari yang terlempar kibat bertumbukan dengan sebuah komet. Teori pasang surut yang dikemukakan oleh buffon kemudian diperbaiki oleh dua orang ilmuan Inggris yaitu, Sir James Jeans dan Harold Jeffreys pada tahun 1919.
Jeans dan Jeffreys menyatakan bahwa tata surya terbentuk oleh efek pasang gas-gas pada matahari. Efek pasang itu disebabkan oleh gaya gravitasi sebuah bintang besar yang melintasi matahari.  Gas-gas panas tersebut kemudian terlepas dari matahari dan mulai mengelilingi matahari. Selanjutnya, gas-gas panas berubah menjadi bola-bola cair. Tiap-tiap bola secara perlahan mendingin dan membentuk lapisan keras di sekelilingnya menjadi planet-planet dan satelit-satelit.


4.         Teori Awan Debu (Proto Planet)
Teori proto planet dikemukakan oleh seorang ahli astronomi Jerman, Carl von Weizsaecker pada tahun 1940. Teori proto planet kemudian disempunakan antara lain oleh Gerard P. Kuiper pada tahun 1950. Teori proto planet menyatakan bahwa tata surya terbentuk oleh gumpalan awan gas dan debu yang jumlahnya sangat banyak. Lebih dari 15.000 juta tahun yang lalu salah satu gumpalan mengalami pemampatan dan menarik pertikel-partikel debu membentuk gumpalan bola. Pada saat itulah terjadi pilinan.
Dengan adanya pilinan, gumpalan bola menjadi pipih menyerupai cakram, yaitu tebal dibagian tengah dan pipih dibagian tepinya. Bagian tengah yang tebal berpilin lebih lambat daripada bagian tepinya. Partikel-partikel dibagian tengah saling menekan sehingga menimbulkan panas dan cahaya. Bagian tengah itu kemudian menjadi matahari.
Partikel-partikel di bagian tepi yang berpilin lebih cepat menyebabkan gumpalan-gumpalan awan gas dan debu terpecah-pecah menjadi gumpalan-gumpalan yang lebih kecil. Gumpalan-gumpalan itu kemudian membeku menjadi bahan planet dan satelitnya. Oleh karena itu, bahan-bahan planet tersebut disebut protoplanet dan teorinya disebut teori protoplanet.
5.           Teori Bintang Kembar
Teori bintang kembar dikemukakan oleh seorang ahli astronomi Inggris R.A Lyttleton sekitar tahun 1930-an. Teori itu menyatakan bahw galaksi kita berisi banyak kombinasi bintang kembar. Oleh karena itu, Lyttleton juga menganggap matahari memiliki sebuah bintang sebagai kembarannya. Bintang kembaran matahari tersebut kemudian meledak menjadi unsur-unsur gas dan terperangkap oleh gaya gravitasi matahari. Awan gas kemudian mendingin membentuk planet-lanet dan satelit-satelitnya yang mengelilingi matahari dan membentuk tata surya. Adapun proses pembentukan planet dan satelit sama dengan teori pasang surut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar